Semua Akan Indah
Pada Waktunya
Pertemuan dengan seorang
cowok di ruangan ekskul itu memberikan kesan yang sangat mendalam di hati Vivi.
Seorang gadis berusia 15 tahun, entah mengapa ada getaran yang begitu hebat dan
belum pernah ia rasakan sebelumnya. Vivi selalu teringat senyuman manis saat
pertama kali ia bertemu dengan kak Rio.
“Hmmzz… kalian percaya gak cinta pertama pada pandangan pertama itu beneran ada?”
Tanya Vivi di sela-sela waktu ekskul.
“Cie–cieeee jatuh cinta sama siapa nih?” ledek Mira dan Selly
Vivi hanya tersipu malu mendegar ucapan teman-temannya itu.
“Hmmzz… kalian percaya gak cinta pertama pada pandangan pertama itu beneran ada?”
Tanya Vivi di sela-sela waktu ekskul.
“Cie–cieeee jatuh cinta sama siapa nih?” ledek Mira dan Selly
Vivi hanya tersipu malu mendegar ucapan teman-temannya itu.
Bel pulang sekolah berbunyi..
Seluruh siswa berhamburan keluar kelas untuk pulang. Suara knalpot motor dan suara angkutan umum membuat suasana di siang hari itu semakin bising saja.
“Vi.. tunggu!! ”
Ketika di tengok ternyata itu adalah kak Dava cowok yang terkenal pintar di kelasnya dan pernah meraih juara lomba sains se-Bandung untuk 2 tahun berturut-turut.
“Ada apa kak?” Tanya Vivi heran
“Kamu punya buku sains tentang alam semesta? boleh gak kakak pinjem?”
“Oh ada kok kak kalau mau pinjem besok bukunya Vivi bawa entar kak Dava ambil aja di kelas Vivi ”
Seluruh siswa berhamburan keluar kelas untuk pulang. Suara knalpot motor dan suara angkutan umum membuat suasana di siang hari itu semakin bising saja.
“Vi.. tunggu!! ”
Ketika di tengok ternyata itu adalah kak Dava cowok yang terkenal pintar di kelasnya dan pernah meraih juara lomba sains se-Bandung untuk 2 tahun berturut-turut.
“Ada apa kak?” Tanya Vivi heran
“Kamu punya buku sains tentang alam semesta? boleh gak kakak pinjem?”
“Oh ada kok kak kalau mau pinjem besok bukunya Vivi bawa entar kak Dava ambil aja di kelas Vivi ”
Keesokkan harinya di sekolah,
ketika Vivi sedang berjalan sendirian di lorong sekolah kak Dava datang
menghampiri.
“Vi mana buku sainsnya? gak lupa dibawa kan?” Tanya kak Dava
“Bawa dong emangnya Vivi udah pikun. Eiiitttzzz tapi inget dibalikin lho, hehe ”
“Iya entar di balikin kok Vi, tapi tahun depan… hahaha!” jawab kak Dava sambil berlari meninggalkan Vivi yang terlihat sedikit kesal dengan sikap kakak kelasnya yang satu ini.
“Vi mana buku sainsnya? gak lupa dibawa kan?” Tanya kak Dava
“Bawa dong emangnya Vivi udah pikun. Eiiitttzzz tapi inget dibalikin lho, hehe ”
“Iya entar di balikin kok Vi, tapi tahun depan… hahaha!” jawab kak Dava sambil berlari meninggalkan Vivi yang terlihat sedikit kesal dengan sikap kakak kelasnya yang satu ini.
“Senin, selasa, rabu, kamis,
jumat, sabtu… Hore.. hore.. besok hari sabtu…!” teriak Vivi sambil
berjingkrak-jingkrak kegirangan.
“Hmmzz.. udah gak sabar pengen cepet-cepet besok, terus ekskul deh..
andai aja setiap hari itu hari sabtu aku bisa ekskul dan lihat kak Rio terus. Walaupun dia jutek tapi kalau lagi senyum manis buanget.. hehe!” bisik Vivi dalam hati.
“Hmmzz.. udah gak sabar pengen cepet-cepet besok, terus ekskul deh..
andai aja setiap hari itu hari sabtu aku bisa ekskul dan lihat kak Rio terus. Walaupun dia jutek tapi kalau lagi senyum manis buanget.. hehe!” bisik Vivi dalam hati.
Saat ekskul Vivi sengaja
mencuri pandangan ke belakang untuk melihat kak Rio sang pujaan hati yang
memang saat ekskul sering duduk di bangku paling belakang. Setelah jam ekskul
berakhir Kak Dava mengembalikan buku yang di pinjamnya dari Vivi.
“Vi.. ini bukunya makasih ya..” ucap kak Dava sambil menyerahkan buku pada Vivi dan kemudian berlalu meninggalkannya.
“Buku apaan Vi?” Tanya mira
“Ini buku sains Vivi yang di pinjem sama kak Dava”
“Coba lihat..!”
Tiba-tiba selly menunjuk pada tulisan pensil paling belakang buku itu.
“Apaan nih? Coba lihat deh Vi!” ucap Selly.
“Hahaha.. puisi cinta dari kak Dava buat kamu Vi” Mira dan Selly tertawa serempak.
“Kak Dava kayanya suka sama kamu deh Vi sampe bikini puisi cinta segala” ucap Mira.
“Gak mungkin masa cowok jenius kaya kak Dava suka sama aku”
“Vi.. ini bukunya makasih ya..” ucap kak Dava sambil menyerahkan buku pada Vivi dan kemudian berlalu meninggalkannya.
“Buku apaan Vi?” Tanya mira
“Ini buku sains Vivi yang di pinjem sama kak Dava”
“Coba lihat..!”
Tiba-tiba selly menunjuk pada tulisan pensil paling belakang buku itu.
“Apaan nih? Coba lihat deh Vi!” ucap Selly.
“Hahaha.. puisi cinta dari kak Dava buat kamu Vi” Mira dan Selly tertawa serempak.
“Kak Dava kayanya suka sama kamu deh Vi sampe bikini puisi cinta segala” ucap Mira.
“Gak mungkin masa cowok jenius kaya kak Dava suka sama aku”
Ketika Vivi sedang berjalan
sendirian datang Kamal memberikan sepucuk surat.
“Vi ada titipan surat buat kamu!”
“Dari siapa Mal?” Tanya Vivi heran
“Baca aja entar juga kamu tahu kok” jawab Kamal sambil pergi meninggalkan Vivi
“Kak Dava? Apa? kak Dava suka sama Vivi kok bisa sih? Hmmz padahal Vi sukanya sama kak Rio bukan kak Dava tapi cowok yang Vivi suka malah cuek”
“Vi ada titipan surat buat kamu!”
“Dari siapa Mal?” Tanya Vivi heran
“Baca aja entar juga kamu tahu kok” jawab Kamal sambil pergi meninggalkan Vivi
“Kak Dava? Apa? kak Dava suka sama Vivi kok bisa sih? Hmmz padahal Vi sukanya sama kak Rio bukan kak Dava tapi cowok yang Vivi suka malah cuek”
“Kamal titip surat ini ya
buat kak Dava sampaikan maaf Vivi buat kak Dava” ucap Vivi sambil menyerahkan
sepucuk kertas.
Semenjak Vivi menolak kak Dava, sikap kak Dava berubah drastis menjadi dingin pada Vivi. Anehnya entah dari siapa kabar penolakkan Vivi kepada kak Dava diketahui oleh teman-teman sekelasnya, dan sontak saja hal itu menjadi bahan ledekan.
“Vi bener ya kak Dava nembak kamu?” Tanya kak Rio yang tiba-tiba menghampiri Vivi yang sedang duduk sendirian di depan kelas.
“Kok kak Rio bisa tahu sih? Iya bener tapi kak Rio jangan bilang siapa-siapa ya kasian kak Davanya!” jawab Vivi
“Hehehe.. berarti bener dong berita yang beredar. Kenapa di tolak kan kak Dava pintar juara lomba sains se-bandung”
“Ihhh… pengen tahu aja rahasia dong!” jawab Vivi
Semenjak Vivi menolak kak Dava, sikap kak Dava berubah drastis menjadi dingin pada Vivi. Anehnya entah dari siapa kabar penolakkan Vivi kepada kak Dava diketahui oleh teman-teman sekelasnya, dan sontak saja hal itu menjadi bahan ledekan.
“Vi bener ya kak Dava nembak kamu?” Tanya kak Rio yang tiba-tiba menghampiri Vivi yang sedang duduk sendirian di depan kelas.
“Kok kak Rio bisa tahu sih? Iya bener tapi kak Rio jangan bilang siapa-siapa ya kasian kak Davanya!” jawab Vivi
“Hehehe.. berarti bener dong berita yang beredar. Kenapa di tolak kan kak Dava pintar juara lomba sains se-bandung”
“Ihhh… pengen tahu aja rahasia dong!” jawab Vivi
Jam dinding menunjukkan pukul
10 malam namun Vivi masih saja belum bisa tidur.
“Huuuhhh kenapa sih kak Rio gak pernah sadar, aku itu sukanya sama kak Rio bukan kak Dava” gumam Vivi.
Tiba-tiba hp vivi berbunyi dan alangkah senangnya ketika vivi tahu kalau yang smsnya adalah kak rio sang pujaan hati. Semenjak itu vivi dan kak rio sering sms-an, walaupun cuma sebatas teman tapi itu sudah membuat hati vivi berbunga-bunga. Hingga tiba-tiba kak rio menghilang dan tak pernah memberi kabar lagi pada vivi, sms vivi pun gak pernah dibalas lagi.
“Huuuhhh kenapa sih kak Rio gak pernah sadar, aku itu sukanya sama kak Rio bukan kak Dava” gumam Vivi.
Tiba-tiba hp vivi berbunyi dan alangkah senangnya ketika vivi tahu kalau yang smsnya adalah kak rio sang pujaan hati. Semenjak itu vivi dan kak rio sering sms-an, walaupun cuma sebatas teman tapi itu sudah membuat hati vivi berbunga-bunga. Hingga tiba-tiba kak rio menghilang dan tak pernah memberi kabar lagi pada vivi, sms vivi pun gak pernah dibalas lagi.
Langit tampak begitu cerah,
matahari yang panas memanggang semesta alam yang telah lelah dengan hiru pikuk
kehidupan. Namun hati vivi tak secerah hari ini. Seusai pulang sekolah vivi
hanya menangis di kamar, hatinya terasa hancur berkeping-keping dan kini
sayap-sayap cintanya telah patah hancur lebur bersama mimpinya. Kak rio sang
pujaan hati kini telah menjadi milik orang lain dan kak rio lebih memilih kak
ratna teman 1 ekskulnya.
“Pantesan kak Rio pindah ke ekskul basket dan gak pernah balas sms aku lagi teryata udah jadian sama kak Ratna” ucap Vivi dengan berlinang air mata.
“Pantesan kak Rio pindah ke ekskul basket dan gak pernah balas sms aku lagi teryata udah jadian sama kak Ratna” ucap Vivi dengan berlinang air mata.
Harapan untuk mendapatkan kak
rio kini pupus sudah. Namun akhirnya vivi menyadari tak baik menangisi keadaan,
walaupun ia menangis seharian toh gak bisa membuat kak rio menjadi miliknya.
“Mungkin ini sudah jalan yang terbaik, Vivi yakin segala sesuatu pasti akan indah pada waktunya”
“Mungkin ini sudah jalan yang terbaik, Vivi yakin segala sesuatu pasti akan indah pada waktunya”
Berbulan-bulan berlalu
akhirnya vivi menerima cinta kevin teman sekelasnya dulu di kelas 10, vivi
berpikir kevin cowok yang baik dan mungkin dengan menerima cinta Kevin dapat
menghapus rasa cintanya pada kak rio.
Satu tahun kemudian...
Ketika vivi sedang asyik mendengarkan musik di hp ada pesan masuk dan ketika di buka vivi sangat terkejut setelah sekian lama kak rio meng smsnya lagi.
“Vi sebenarnya dulu kak Rio suka sama Vivi” ucap kak Rio di salah 1 pesan singkatnya.
Mendengar pengakuan kak rio, akhirnya vivi juga jujur tentang perasaannya dulu, kalau sebenarnya dia juga suka sama kak rio tapi kak rio selalu cuek sama vivi. Kak rio bilang dulu dia terlalu takut di tolak karena kak dava cowok sepintar itu pun ditolak, apalagi dengar dari selly katanya vivi gak akan pacaran dulu sebelum lulus SMA.
“Vi, sebenarnya sampai sekarang kak Rio masih sayang sama Vivi. Kak Rio sedih banget pas tahu Vivi sekarang udah punya pacar. Dulu kak Rio terlanjur putus asa, Vivi seperti gak pernah ngasih harapan buat kakak” ucap kak Rio lewat telepon seluler.
“Vivi juga sampai sekarang masih sayang sama kakak, vivi kira dengan menerima cintanya Kevin dapat menghapus rasa cinta aku buat kakak tapi ternyata salah, Vivi gak bisa hilangin rasa sayang Vivi terhadap kakak” jawab Vivi
Ketika vivi sedang asyik mendengarkan musik di hp ada pesan masuk dan ketika di buka vivi sangat terkejut setelah sekian lama kak rio meng smsnya lagi.
“Vi sebenarnya dulu kak Rio suka sama Vivi” ucap kak Rio di salah 1 pesan singkatnya.
Mendengar pengakuan kak rio, akhirnya vivi juga jujur tentang perasaannya dulu, kalau sebenarnya dia juga suka sama kak rio tapi kak rio selalu cuek sama vivi. Kak rio bilang dulu dia terlalu takut di tolak karena kak dava cowok sepintar itu pun ditolak, apalagi dengar dari selly katanya vivi gak akan pacaran dulu sebelum lulus SMA.
“Vi, sebenarnya sampai sekarang kak Rio masih sayang sama Vivi. Kak Rio sedih banget pas tahu Vivi sekarang udah punya pacar. Dulu kak Rio terlanjur putus asa, Vivi seperti gak pernah ngasih harapan buat kakak” ucap kak Rio lewat telepon seluler.
“Vivi juga sampai sekarang masih sayang sama kakak, vivi kira dengan menerima cintanya Kevin dapat menghapus rasa cinta aku buat kakak tapi ternyata salah, Vivi gak bisa hilangin rasa sayang Vivi terhadap kakak” jawab Vivi
Perasaan senang bercampur
sedih bergejolak di hati keduanya. Telah mengetahui bahwa teryata selama ini
cinta mereka tak bertepuk sebelah tangan. Namun kini nasi telah menjadi bubur,
mereka kini telah sama-sama menjadi milik orang lain dan tak mungkin cinta
dapat terwujud di antara keduanya.
“Vi walaupun kita masing-masing sudah punya pacar tapi kak Rio berharap keajaiban itu akan datang buat kita dan membuat kita bisa bersama” ucap kak Rio.
“Vi walaupun kita masing-masing sudah punya pacar tapi kak Rio berharap keajaiban itu akan datang buat kita dan membuat kita bisa bersama” ucap kak Rio.
Berbulan-bulan berlalu
akhirnya vivi memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan kevin karena vivi
sudah tak nyaman lagi dengan sikap kevin yang terlalu kekanak-kanakkan.
Putusnya vivi dengan kevin lambat laun diketahui juga oleh kak rio
“Vi tunggu kak Rio ya buat jadi pacar Vivi. Kak Rio gak bisa putusin cewek walaupun cinta kakak hanya buat kamu. Tapi kakak yakin kak Ratna pasti akan putusin kakak”. Ucap kak Rio.
“Vi tunggu kak Rio ya buat jadi pacar Vivi. Kak Rio gak bisa putusin cewek walaupun cinta kakak hanya buat kamu. Tapi kakak yakin kak Ratna pasti akan putusin kakak”. Ucap kak Rio.
Beberapa hari kemudian disaat
matahari masih malu-malu memancarkan sinarnya kak rio menelepon vivi yang baru
saja bangun.
“Ada apa kak?”
“Vi, kakak baru di putusin sama kak Ratna tadi malam”
“Kak Rio gak bohong kan?”
“Beneran V,i kak Rio gak bohong, kak Rio berharap Vivi mau menerima cintanya kakak dan menerima kakak jadi pacarnya Vivi.. PLEASE!!” ucap kak Rio dengan nada memelas
Mendengar itu vivi diam sejenak. Ia tak bisa membohongi perasaannya kalau sampai detik ini vivi masih sayang sama kak rio dan akhinya vivi pun menerima cinta kak rio.
“Ternyata keajaiban itu ada buat kita yang percaya ya kak. Akhirnya telah sekian lama tuhan mengizinkan kita bersama.” Ucap Vivi
“Kamu benar Vi, ternyata tuhan mengabulkan doa kakak selama ini supaya bisa bersama kamu”
Kegembiraan pun tak dapat di sembunyikan di antara keduanya.
“Cinta itu bagai fatamorgana di siang hari tak pernah bisa di tebak. Akhirnya cinta kita indah pada waktunya yah Vi!” ucap kak Rio
“Ada apa kak?”
“Vi, kakak baru di putusin sama kak Ratna tadi malam”
“Kak Rio gak bohong kan?”
“Beneran V,i kak Rio gak bohong, kak Rio berharap Vivi mau menerima cintanya kakak dan menerima kakak jadi pacarnya Vivi.. PLEASE!!” ucap kak Rio dengan nada memelas
Mendengar itu vivi diam sejenak. Ia tak bisa membohongi perasaannya kalau sampai detik ini vivi masih sayang sama kak rio dan akhinya vivi pun menerima cinta kak rio.
“Ternyata keajaiban itu ada buat kita yang percaya ya kak. Akhirnya telah sekian lama tuhan mengizinkan kita bersama.” Ucap Vivi
“Kamu benar Vi, ternyata tuhan mengabulkan doa kakak selama ini supaya bisa bersama kamu”
Kegembiraan pun tak dapat di sembunyikan di antara keduanya.
“Cinta itu bagai fatamorgana di siang hari tak pernah bisa di tebak. Akhirnya cinta kita indah pada waktunya yah Vi!” ucap kak Rio
Thanks For Everything
Seperti biasa, aku terduduk di kursiku yang terletak di
pojokan paling pinggir di kelas, ditemani buku jurnal hadiah dari ayah, sambil
menatap semua keributan di dalam kelas. Tak ada seorang pun yang peduli dengan
keberadaanku, bahkan mungkin mereka tidak mengetahui namaku. Rasanya aku
benar-benar ingin bergabung di lingkaran itu, semuanya tertawa bahagia, seakan
dunia ini hanya milik mereka. Mereka saling bercanda satu sama lain ataupun
berbagi pengalaman. Aku hanya menatap lingkaran itu dengan penuh harapan,
apakah ada seseorang yang mau mengajakku bergabung? rasanya itu mustahil tetapi
mungkin tidak untuk hari ini..
Saat aku sedang
asik-asik termenung melihat keributan di satu lingkaran itu, seorang cowok
menatapku dengan tajam, dahinya berkerut, ia membisikkan sesuatu ke teman
sebelahnya, teman sebelahnya itu menatapku sebentar dan menegakkan bahunya “aku
juga tidah tau.. yuk main lagi!” cowok itu kembali tenggelam asik bermain,
huaaah!! Aku senang, mungkin cowok itu sadar dengan keberadaanku!! Walaupun dia
cuek lagi sih tapi yang terpenting aku senang ternyata ada juga orang yang mau
melihatku, setidaknya aku ini bukan makhluk halus.
Keesokan harinya aku
datang pagi sekali, belum ada satu orang pun datang. Aku langsung duduk di
kursiku dan ngisi diari, tapi lagi-lagi sesuatu terjadi! Tiba-tiba Cowok yang
ngelihat aku kemarin datang dengan gayanya yang dingin, ia masuk kelas dan
menatapku lagi lebih lama, aku jadi sedikit salah tingkah, suasana begitu sepi
mencekam, aku rasanya ingin ngajak dia berbicara tapi mulutku ini rasanya
seperti ada lem.
“Hmmm” cowok itu
bergumam
“Kenapa?” spontan aku
bertanya
“Enggak apa-apa.. kamu
Stella kan?” tanyanya dengan gayanya yang super dingin..
Aku tak percaya! Dia
tau namaku, aku saja tak tau siapa namanya
“Iya.. kamu sendiri
siapa?” tanyaku lagi, ia menatapku bingung
“Kamu ini benar-benar
gak gaul ya, cowok sepopuler gini gak tau namanya ? Jangan-jangan kamu gak
hafal lagi nama-nama teman kita di kelas” katanya membuatku terkejut lalu
menunduk
“Maaf, aku emang gak
tau..” kataku begitu halus
“Hahaha” dia malah
tertawa!
Duh tambah manis aja
nih cowok… aku bingung dan menatapnya begitu dekat
“Kenapa kamu tertawa?”
“Gak.. kamu polos
banget.. aku kan cuma bercanda, namaku Adit. Oh iya tapi yang populer itu
betulan ya!” katanya cekikikan.
Aku cuma tersenyum
senang.. duh akhirnya aku dapet teman juga… ganteng lagi!
“Kamu manis loh kalau
senyum gitu” katanya yang tiba-tiba membuat pipiku memerah
“Makasih..” kataku.
Dia tertawa lagi dan
mencubit pipiku “sip cewek aneh!” katanya tersenyum usil.
Aku harap sekarang ia
tak dapat mendengar degupan jantungku yang berdetak begitu cepat.
Waktu istirahat
seperti biasa, aku sendirian tidak ada satu pun teman yang mau mengajakku main
atau jajan di kantin jadi aku hanya duduk sendiri menikmati bekal buatan ibu
sambil tersenyum-senyum mengingat kejadian tadi pagi..
“Heey Stella!” aku
mendongak tak percaya seseorang memanggil namaku dari lingkaran, ternyata dia
Adit. Dia memanggil namaku!
“Aku?” tanyaku masih
tak percaya
“Iya sini! Ayo gabung”
ajaknya, aku terperangah dan mengangguk semangat
“Iya.. iya aku gabung”
aku duduk di sebelahnya woaah!! Mungkin hari ini sejarah bagiku akhirnya aku
bisa bergabung di lingkaran itu! Walaupun semuanya tak memperdulikan
keberadaanku disitu, mereka masih sibuk cekikikan tak menghiraukanku hanya Adit
yang tersenyum menatapku..
“Eh, Guys.. kalian tau gak, aku dapet majalah nih dari ibuku.
Gamesnya seru seru loh!” teriak seorang cewek kalau gak salah namanya Sera aku
tau namanya karena dia cewek yang paling heboh dan ribut di kelas
“Oh ya? Lihat dong !”
“Iya-iya aku bawa
nih!” dia menyerahkan majalah itu
“Eh main sambung kata
yuk!” kata Adit.
Tiba-tiba, semuanya
mengangguk setuju
“Ayook udah lama gak
main. Tumben nih pangeran Adit mau main gituan” Sera tersenyum usil yang
lainnya tertawa aku hanya tersenyum simpul.
“Oke dari Stella ya!”
seru Adit menyebutkan namaku, aku hanya diam canggung yang lain juga bingung
“Stella? Siapa tuh siang-siang gini jangan ngigau deh dit” tanya salah satu
cowok.
“Oh iya aku lupa
ngasih tau kalian, ini dia Stella, dia gabung sama kita hari ini” jelas Adit
menunjukku. Aku tertunduk malu yang lain hanya menganggukkan kepala
“Ooh namanya Stella
aku jarang sih ngelihat dia soalnya diam-diam menghanyutkan hehe” sahut Sera
tersenyum melihatku.
Aku benar-benar tak
percaya sekarang!! Ternyata selama ini aku salah, mereka ternyata sadar akan
keberadaanku
“Cepat Stella kamu
duluan!” kata Adit. Aku menatapnya bingung
“Maaf teman-teman aku
gak ngerti cara mainnya” ujarku polos semuanya terdiam beberapa menit kemudian
Adit tertawa terbahak-bahak memegang perutnya. Gara-gara dia semuanya juga ikut
tertawa, aku melihat mereka bingung
“Ada yang salah?”
tanyaku,
“Enggak papa.. aku
ajarin deh cara mainnya, kamu sebutin aja satu benda” pinta Adit..
“Piano” kataku pelan
“NODA” “DASI” “SINGA”
“GAPTEK” “TEKO” Adit dan yang lainnya mulai menyambung kata.
Sekarang giliranku
lagi.. aku udah mulai ngerti cara mainnya tapi masih canggung
“Ko…” “KONDANGAN”
kataku keras.. semua teman-teman tergelak lagi “hahaahaha mana bisa kondangan
itu kan bukan bahasa indonesia kamu keluar!” kata Sera cekikikan..
Aku mengangguk ngerti
ternyata yang salah harus keluar.. aku mundur sedikit dari lingkaran dan
menatap Adit yang terlihat semangat tak sadar aku tersenyum melihatnya
“Makasih Adit.. aku
belum pernah merasa sebahagia ini” kataku dalam hati.
Semenjak kejadian itu
beberapa teman di kelas mulai mengenalku bahkan aku mulai akrab dengan mereka,
tak ada yang bisa mengalahkan rasa bahagia ini.. Sekarang aku tak perlu menatap
lingkaran itu dengan penuh harapan lagi, karena aku salah satu bagian dari
lingkaran itu. Ketika jam istirahat, tiba-tiba Adit memanggilku ia mengenggam
tanganku dan berbisik
“Stella ayo ke
kantin!” aku menatapnya begitu lama.. dia tersenyum manis dan mencubit pipiku
“Ayo tunggu apa lagi?”
katanya
“Aku cuma mau bilang
ke kamu..” aku menunduk berusaha tidak menatap senyuman mautnya itu “Thanks For
Everything” kataku dan mengenggam tangannya lebih erat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar