Musik

Senin, 03 Maret 2014

Kumpulan Cerpen


Semua Akan Indah Pada Waktunya
Pertemuan dengan seorang cowok di ruangan ekskul itu memberikan kesan yang sangat mendalam di hati Vivi. Seorang gadis berusia 15 tahun, entah mengapa ada getaran yang begitu hebat dan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Vivi selalu teringat senyuman manis saat pertama kali ia bertemu dengan kak Rio.
“Hmmzz… kalian percaya gak cinta pertama pada pandangan pertama itu beneran ada?”
Tanya Vivi di sela-sela waktu ekskul.
“Cie–cieeee jatuh cinta sama siapa nih?” ledek Mira dan Selly
Vivi hanya tersipu malu mendegar ucapan teman-temannya itu.

Bel pulang sekolah berbunyi..
Seluruh siswa berhamburan keluar kelas untuk pulang. Suara knalpot motor dan suara angkutan umum membuat suasana di siang hari itu semakin bising saja.
“Vi.. tunggu!! ”
Ketika di tengok ternyata itu adalah kak Dava cowok yang terkenal pintar di kelasnya dan pernah meraih juara lomba sains se-Bandung untuk 2 tahun berturut-turut.
“Ada apa kak?” Tanya Vivi heran
“Kamu punya buku sains tentang alam semesta? boleh gak kakak pinjem?”
“Oh ada kok kak kalau mau pinjem besok bukunya Vivi bawa entar kak Dava ambil aja di kelas Vivi ”

Keesokkan harinya di sekolah, ketika Vivi sedang berjalan sendirian di lorong sekolah kak Dava datang menghampiri.
“Vi mana buku sainsnya? gak lupa dibawa kan?” Tanya kak Dava
“Bawa dong emangnya Vivi udah pikun. Eiiitttzzz tapi inget dibalikin lho, hehe ”
“Iya entar di balikin kok Vi, tapi tahun depan… hahaha!” jawab kak Dava sambil berlari meninggalkan Vivi yang terlihat sedikit kesal dengan sikap kakak kelasnya yang satu ini.
“Senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu… Hore.. hore.. besok hari sabtu…!” teriak Vivi sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan.
“Hmmzz.. udah gak sabar pengen cepet-cepet besok, terus ekskul deh..
andai aja setiap hari itu hari sabtu aku bisa ekskul dan lihat kak Rio terus. Walaupun dia jutek tapi kalau lagi senyum manis buanget.. hehe!” bisik Vivi dalam hati.

Saat ekskul Vivi sengaja mencuri pandangan ke belakang untuk melihat kak Rio sang pujaan hati yang memang saat ekskul sering duduk di bangku paling belakang. Setelah jam ekskul berakhir Kak Dava mengembalikan buku yang di pinjamnya dari Vivi.
“Vi.. ini bukunya makasih ya..” ucap kak Dava sambil menyerahkan buku pada Vivi dan kemudian berlalu meninggalkannya.
“Buku apaan Vi?” Tanya mira
“Ini buku sains Vivi yang di pinjem sama kak Dava”
“Coba lihat..!”
Tiba-tiba selly menunjuk pada tulisan pensil paling belakang buku itu.
“Apaan nih? Coba lihat deh Vi!” ucap Selly.
“Hahaha.. puisi cinta dari kak Dava buat kamu Vi” Mira dan Selly tertawa serempak.
“Kak Dava kayanya suka sama kamu deh Vi sampe bikini puisi cinta segala” ucap Mira.
“Gak mungkin masa cowok jenius kaya kak Dava suka sama aku”

Ketika Vivi sedang berjalan sendirian datang Kamal memberikan sepucuk surat.
“Vi ada titipan surat buat kamu!”
“Dari siapa Mal?” Tanya Vivi heran
“Baca aja entar juga kamu tahu kok” jawab Kamal sambil pergi meninggalkan Vivi
“Kak Dava? Apa? kak Dava suka sama Vivi kok bisa sih? Hmmz padahal Vi sukanya sama kak Rio bukan kak Dava tapi cowok yang Vivi suka malah cuek”
“Kamal titip surat ini ya buat kak Dava sampaikan maaf Vivi buat kak Dava” ucap Vivi sambil menyerahkan sepucuk kertas.
Semenjak Vivi menolak kak Dava, sikap kak Dava berubah drastis menjadi dingin pada Vivi. Anehnya entah dari siapa kabar penolakkan Vivi kepada kak Dava diketahui oleh teman-teman sekelasnya, dan sontak saja hal itu menjadi bahan ledekan.
“Vi bener ya kak Dava nembak kamu?” Tanya kak Rio yang tiba-tiba menghampiri Vivi yang sedang duduk sendirian di depan kelas.
“Kok kak Rio bisa tahu sih? Iya bener tapi kak Rio jangan bilang siapa-siapa ya kasian kak Davanya!” jawab Vivi
“Hehehe.. berarti bener dong berita yang beredar. Kenapa di tolak kan kak Dava pintar juara lomba sains se-bandung”
“Ihhh… pengen tahu aja rahasia dong!” jawab Vivi

Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam namun Vivi masih saja belum bisa tidur.
“Huuuhhh kenapa sih kak Rio gak pernah sadar, aku itu sukanya sama kak Rio bukan kak Dava” gumam Vivi.
Tiba-tiba hp vivi berbunyi dan alangkah senangnya ketika vivi tahu kalau yang smsnya adalah kak rio sang pujaan hati. Semenjak itu vivi dan kak rio sering sms-an, walaupun cuma sebatas teman tapi itu sudah membuat hati vivi berbunga-bunga. Hingga tiba-tiba kak rio menghilang dan tak pernah memberi kabar lagi pada vivi, sms vivi pun gak pernah dibalas lagi.

Langit tampak begitu cerah, matahari yang panas memanggang semesta alam yang telah lelah dengan hiru pikuk kehidupan. Namun hati vivi tak secerah hari ini. Seusai pulang sekolah vivi hanya menangis di kamar, hatinya terasa hancur berkeping-keping dan kini sayap-sayap cintanya telah patah hancur lebur bersama mimpinya. Kak rio sang pujaan hati kini telah menjadi milik orang lain dan kak rio lebih memilih kak ratna teman 1 ekskulnya.
“Pantesan kak Rio pindah ke ekskul basket dan gak pernah balas sms aku lagi teryata udah jadian sama kak Ratna” ucap Vivi dengan berlinang air mata.
Harapan untuk mendapatkan kak rio kini pupus sudah. Namun akhirnya vivi menyadari tak baik menangisi keadaan, walaupun ia menangis seharian toh gak bisa membuat kak rio menjadi miliknya.
“Mungkin ini sudah jalan yang terbaik, Vivi yakin segala sesuatu pasti akan indah pada waktunya”
Berbulan-bulan berlalu akhirnya vivi menerima cinta kevin teman sekelasnya dulu di kelas 10, vivi berpikir kevin cowok yang baik dan mungkin dengan menerima cinta Kevin dapat menghapus rasa cintanya pada kak rio.

Satu tahun kemudian...
Ketika vivi sedang asyik mendengarkan musik di hp ada pesan masuk dan ketika di buka vivi sangat terkejut setelah sekian lama kak rio meng smsnya lagi.
“Vi sebenarnya dulu kak Rio suka sama Vivi” ucap kak Rio di salah 1 pesan singkatnya.
Mendengar pengakuan kak rio, akhirnya vivi juga jujur tentang perasaannya dulu, kalau sebenarnya dia juga suka sama kak rio tapi kak rio selalu cuek sama vivi. Kak rio bilang dulu dia terlalu takut di tolak karena kak dava cowok sepintar itu pun ditolak, apalagi dengar dari selly katanya vivi gak akan pacaran dulu sebelum lulus SMA.
“Vi, sebenarnya sampai sekarang kak Rio masih sayang sama Vivi. Kak Rio sedih banget pas tahu Vivi sekarang udah punya pacar. Dulu kak Rio terlanjur putus asa, Vivi seperti gak pernah ngasih harapan buat kakak” ucap kak Rio lewat telepon seluler.
“Vivi juga sampai sekarang masih sayang sama kakak, vivi kira dengan menerima cintanya Kevin dapat menghapus rasa cinta aku buat kakak tapi ternyata salah, Vivi gak bisa hilangin rasa sayang Vivi terhadap kakak” jawab Vivi
Perasaan senang bercampur sedih bergejolak di hati keduanya. Telah mengetahui bahwa teryata selama ini cinta mereka tak bertepuk sebelah tangan. Namun kini nasi telah menjadi bubur, mereka kini telah sama-sama menjadi milik orang lain dan tak mungkin cinta dapat terwujud di antara keduanya.
“Vi walaupun kita masing-masing sudah punya pacar tapi kak Rio berharap keajaiban itu akan datang buat kita dan membuat kita bisa bersama” ucap kak Rio.

Berbulan-bulan berlalu akhirnya vivi memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan kevin karena vivi sudah tak nyaman lagi dengan sikap kevin yang terlalu kekanak-kanakkan. Putusnya vivi dengan kevin lambat laun diketahui juga oleh kak rio
“Vi tunggu kak Rio ya buat jadi pacar Vivi. Kak Rio gak bisa putusin cewek walaupun cinta kakak hanya buat kamu. Tapi kakak yakin kak Ratna pasti akan putusin kakak”. Ucap kak Rio.

Beberapa hari kemudian disaat matahari masih malu-malu memancarkan sinarnya kak rio menelepon vivi yang baru saja bangun.
“Ada apa kak?”
“Vi, kakak baru di putusin sama kak Ratna tadi malam”
“Kak Rio gak bohong kan?”
“Beneran V,i kak Rio gak bohong, kak Rio berharap Vivi mau menerima cintanya kakak dan menerima kakak jadi pacarnya Vivi.. PLEASE!!” ucap kak Rio dengan nada memelas
Mendengar itu vivi diam sejenak. Ia tak bisa membohongi perasaannya kalau sampai detik ini vivi masih sayang sama kak rio dan akhinya vivi pun menerima cinta kak rio.
“Ternyata keajaiban itu ada buat kita yang percaya ya kak. Akhirnya telah sekian lama tuhan mengizinkan kita bersama.” Ucap Vivi
“Kamu benar Vi, ternyata tuhan mengabulkan doa kakak selama ini supaya bisa bersama kamu”
Kegembiraan pun tak dapat di sembunyikan di antara keduanya.
“Cinta itu bagai fatamorgana di siang hari tak pernah bisa di tebak. Akhirnya cinta kita indah pada waktunya yah Vi!” ucap kak Rio

Thanks For Everything
Seperti biasa, aku terduduk di kursiku yang terletak di pojokan paling pinggir di kelas, ditemani buku jurnal hadiah dari ayah, sambil menatap semua keributan di dalam kelas. Tak ada seorang pun yang peduli dengan keberadaanku, bahkan mungkin mereka tidak mengetahui namaku. Rasanya aku benar-benar ingin bergabung di lingkaran itu, semuanya tertawa bahagia, seakan dunia ini hanya milik mereka. Mereka saling bercanda satu sama lain ataupun berbagi pengalaman. Aku hanya menatap lingkaran itu dengan penuh harapan, apakah ada seseorang yang mau mengajakku bergabung? rasanya itu mustahil tetapi mungkin tidak untuk hari ini..

Saat aku sedang asik-asik termenung melihat keributan di satu lingkaran itu, seorang cowok menatapku dengan tajam, dahinya berkerut, ia membisikkan sesuatu ke teman sebelahnya, teman sebelahnya itu menatapku sebentar dan menegakkan bahunya “aku juga tidah tau.. yuk main lagi!” cowok itu kembali tenggelam asik bermain, huaaah!! Aku senang, mungkin cowok itu sadar dengan keberadaanku!! Walaupun dia cuek lagi sih tapi yang terpenting aku senang ternyata ada juga orang yang mau melihatku, setidaknya aku ini bukan makhluk halus.

Keesokan harinya aku datang pagi sekali, belum ada satu orang pun datang. Aku langsung duduk di kursiku dan ngisi diari, tapi lagi-lagi sesuatu terjadi! Tiba-tiba Cowok yang ngelihat aku kemarin datang dengan gayanya yang dingin, ia masuk kelas dan menatapku lagi lebih lama, aku jadi sedikit salah tingkah, suasana begitu sepi mencekam, aku rasanya ingin ngajak dia berbicara tapi mulutku ini rasanya seperti ada lem.
“Hmmm” cowok itu bergumam
“Kenapa?” spontan aku bertanya
“Enggak apa-apa.. kamu Stella kan?” tanyanya dengan gayanya yang super dingin..
Aku tak percaya! Dia tau namaku, aku saja tak tau siapa namanya
“Iya.. kamu sendiri siapa?” tanyaku lagi, ia menatapku bingung
“Kamu ini benar-benar gak gaul ya, cowok sepopuler gini gak tau namanya ? Jangan-jangan kamu gak hafal lagi nama-nama teman kita di kelas” katanya membuatku terkejut lalu menunduk
“Maaf, aku emang gak tau..” kataku begitu halus
“Hahaha” dia malah tertawa!
Duh tambah manis aja nih cowok… aku bingung dan menatapnya begitu dekat
“Kenapa kamu tertawa?”
“Gak.. kamu polos banget.. aku kan cuma bercanda, namaku Adit. Oh iya tapi yang populer itu betulan ya!” katanya cekikikan.
Aku cuma tersenyum senang.. duh akhirnya aku dapet teman juga… ganteng lagi!
“Kamu manis loh kalau senyum gitu” katanya yang tiba-tiba membuat pipiku memerah
“Makasih..” kataku.
Dia tertawa lagi dan mencubit pipiku “sip cewek aneh!” katanya tersenyum usil.
Aku harap sekarang ia tak dapat mendengar degupan jantungku yang berdetak begitu cepat.

Waktu istirahat seperti biasa, aku sendirian tidak ada satu pun teman yang mau mengajakku main atau jajan di kantin jadi aku hanya duduk sendiri menikmati bekal buatan ibu sambil tersenyum-senyum mengingat kejadian tadi pagi..
“Heey Stella!” aku mendongak tak percaya seseorang memanggil namaku dari lingkaran, ternyata dia Adit. Dia memanggil namaku!
“Aku?” tanyaku masih tak percaya
“Iya sini! Ayo gabung” ajaknya, aku terperangah dan mengangguk semangat
“Iya.. iya aku gabung” aku duduk di sebelahnya woaah!! Mungkin hari ini sejarah bagiku akhirnya aku bisa bergabung di lingkaran itu! Walaupun semuanya tak memperdulikan keberadaanku disitu, mereka masih sibuk cekikikan tak menghiraukanku hanya Adit yang tersenyum menatapku..
“Eh, Guys.. kalian tau gak, aku dapet majalah nih dari ibuku. Gamesnya seru seru loh!” teriak seorang cewek kalau gak salah namanya Sera aku tau namanya karena dia cewek yang paling heboh dan ribut di kelas
“Oh ya? Lihat dong !”
“Iya-iya aku bawa nih!” dia menyerahkan majalah itu
“Eh main sambung kata yuk!” kata Adit.
Tiba-tiba, semuanya mengangguk setuju
“Ayook udah lama gak main. Tumben nih pangeran Adit mau main gituan” Sera tersenyum usil yang lainnya tertawa aku hanya tersenyum simpul.
“Oke dari Stella ya!” seru Adit menyebutkan namaku, aku hanya diam canggung yang lain juga bingung “Stella? Siapa tuh siang-siang gini jangan ngigau deh dit” tanya salah satu cowok.
“Oh iya aku lupa ngasih tau kalian, ini dia Stella, dia gabung sama kita hari ini” jelas Adit menunjukku. Aku tertunduk malu yang lain hanya menganggukkan kepala
“Ooh namanya Stella aku jarang sih ngelihat dia soalnya diam-diam menghanyutkan hehe” sahut Sera tersenyum melihatku.
Aku benar-benar tak percaya sekarang!! Ternyata selama ini aku salah, mereka ternyata sadar akan keberadaanku
“Cepat Stella kamu duluan!” kata Adit. Aku menatapnya bingung
“Maaf teman-teman aku gak ngerti cara mainnya” ujarku polos semuanya terdiam beberapa menit kemudian Adit tertawa terbahak-bahak memegang perutnya. Gara-gara dia semuanya juga ikut tertawa, aku melihat mereka bingung
“Ada yang salah?” tanyaku,
“Enggak papa.. aku ajarin deh cara mainnya, kamu sebutin aja satu benda” pinta Adit..
“Piano” kataku pelan
“NODA” “DASI” “SINGA” “GAPTEK” “TEKO” Adit dan yang lainnya mulai menyambung kata.
Sekarang giliranku lagi.. aku udah mulai ngerti cara mainnya tapi masih canggung
“Ko…” “KONDANGAN” kataku keras.. semua teman-teman tergelak lagi “hahaahaha mana bisa kondangan itu kan bukan bahasa indonesia kamu keluar!” kata Sera cekikikan..
Aku mengangguk ngerti ternyata yang salah harus keluar.. aku mundur sedikit dari lingkaran dan menatap Adit yang terlihat semangat tak sadar aku tersenyum melihatnya
“Makasih Adit.. aku belum pernah merasa sebahagia ini” kataku dalam hati.

Semenjak kejadian itu beberapa teman di kelas mulai mengenalku bahkan aku mulai akrab dengan mereka, tak ada yang bisa mengalahkan rasa bahagia ini.. Sekarang aku tak perlu menatap lingkaran itu dengan penuh harapan lagi, karena aku salah satu bagian dari lingkaran itu. Ketika jam istirahat, tiba-tiba Adit memanggilku ia mengenggam tanganku dan berbisik
“Stella ayo ke kantin!” aku menatapnya begitu lama.. dia tersenyum manis dan mencubit pipiku
“Ayo tunggu apa lagi?” katanya
“Aku cuma mau bilang ke kamu..” aku menunduk berusaha tidak menatap senyuman mautnya itu “Thanks For Everything” kataku dan mengenggam tangannya lebih erat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar